<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2205338317423085824</id><updated>2011-08-21T16:28:36.169+07:00</updated><title type='text'>Budiman Teh</title><subtitle type='html'>Diskursif tentang kota, politik, dan sekitarnya.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://budimanteh.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2205338317423085824/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budimanteh.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Budiman Wiharja Teh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04295947360612935345</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2205338317423085824.post-2488058747141842446</id><published>2009-03-06T16:15:00.001+07:00</published><updated>2009-03-06T16:15:02.907+07:00</updated><title type='text'>Grand Ave</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.flickr.com/photos/budimanteh/3332001717/" title="photo sharing"&gt;&lt;img src="http://farm4.static.flickr.com/3166/3332001717_d20db240e0_m.jpg" alt="" style="border: solid 0px #000000;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 0.9em; margin-top: 0px;"&gt;&lt;a href="http://www.flickr.com/photos/budimanteh/3332001717/"&gt;Grand Ave&lt;/a&gt; Originally uploaded by &lt;a href="http://www.flickr.com/people/budimanteh/"&gt;Budiman Teh&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br clear="all" /&gt;&lt;p&gt;This was a shot right outside of MOCA looking south on Grand Ave. I think this is a great view of a really nice generic downtown which got replicated so many times in so many pop cultures products (video games, movie sets, children books, etc).&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2205338317423085824-2488058747141842446?l=budimanteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budimanteh.blogspot.com/feeds/2488058747141842446/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budimanteh.blogspot.com/2009/03/grand-ave_06.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2205338317423085824/posts/default/2488058747141842446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2205338317423085824/posts/default/2488058747141842446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budimanteh.blogspot.com/2009/03/grand-ave_06.html' title='Grand Ave'/><author><name>Budiman Wiharja Teh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04295947360612935345</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://farm4.static.flickr.com/3166/3332001717_d20db240e0_t.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2205338317423085824.post-2174567690498983330</id><published>2009-03-06T15:47:00.001+07:00</published><updated>2009-03-06T15:47:12.550+07:00</updated><title type='text'>Flickr</title><content type='html'>This is a test post from &lt;a href="http://www.flickr.com/r/testpost"&gt;&lt;img alt="flickr" src="http://www.flickr.com/images/flickr_logo_blog.gif" width="41" height="18" border="0" align="absmiddle" /&gt;&lt;/a&gt;, a fancy photo sharing thing.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2205338317423085824-2174567690498983330?l=budimanteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budimanteh.blogspot.com/feeds/2174567690498983330/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budimanteh.blogspot.com/2009/03/flickr.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2205338317423085824/posts/default/2174567690498983330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2205338317423085824/posts/default/2174567690498983330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budimanteh.blogspot.com/2009/03/flickr.html' title='Flickr'/><author><name>Budiman Wiharja Teh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04295947360612935345</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2205338317423085824.post-6786873587991182572</id><published>2009-01-14T14:04:00.011+07:00</published><updated>2009-01-15T23:56:37.477+07:00</updated><title type='text'>Oba-Mom</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Beberapa hari lagi akan diadakan inaugurasi Barack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44. Penantian hari itu terasa seperti sepercik harapan yang memberi kehangatan hati ditengah musim dingin global ini. Kebanyakan masyarakat Amerika (setidaknya 53 persen) menunggu tanggal dua puluh satu, satu hari setelah Obama resmi menjadi Presiden Amerika Serikat. Selain menunggu mulainya pelaksanaan janji-janji Obama dalam kampanye, mereka juga menantikan solusi emergensi yang sangat dibutuhkan saat ini. Banyak juga yang mengharapkan suatu ilusi bahwa dunia mereka akan berubah dan menjadi lebih baik secara instant. Saya rasa itu sesuatu yang wajar dan masih boleh dibilang harapan yang sehat. Sadar atau tidak, secara explisit atau implisit, masyarakat dunia yang lain juga terbawa harapan-harapan sentimental terhadap Obama dan bersama menunggu hari itu. Termasuk masyarakat Indonesia. Terutama masyarakat Indonesia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak dari kita yang bangga atas ekskursi Obama kecil selama di Indonesia, terutama di Jakarta dari tahun 1967 sampai tahun 1971. (Bukankah rumah bekas tempat tinggal keluarganya-nya di Menteng baru dijadikan cagar budaya Jakarta bahkan beberapa bulan sebelum dia terpilih menjadi Presiden.) Pentingnya pengalamannya di Indonesia ditulisnya secara mendalam dalam biografinya sendiri &lt;em&gt;Dreams from My Father&lt;/em&gt; yang diterbitkan tahun 1995, jauh sebelum semua yang terjadi saat ini bisa diperkirakan. Seperti yang kita tahu, Obama pindah ke ‘Djakarta’ beserta ibunya Stanley Ann Soetoro dan bapak angkatnya Lolo Soetoro, orang Indonesia tersebut. Jakarta memang hanyalah salah satu halaman hidup dia yang sarat dengan pengalaman-pengalaman perpaduan dan kontradiksi dualitas hidup. Di Democratic Convention di Boston, tahun 2004 Obama dengan gelegar mengatakan pengalaman hidupnya yang beraneka ragam ini &lt;em&gt;“…in no other country on Earth is my story even possible.”&lt;/em&gt; Tapi Jakarta memang tidak bisa disangkal menjadi salah satu halaman utama yang membuat cerita Obama itu mungkin. Tepatnya mulai dari halaman 28 dan sampai seluruh bab kedua buku Dreams. Obama menguraikan secara detail pengalaman pembentukan hidupnya selama di Indonesia yang, saya yakin, turut membuat anak ini jauh lebih dewasa dari umurnya. Akselerasi kedewasaan yang ia dapatkan dimasa umur kritikal pertumbuhan anak kecil inilah yang juga menjadi aset utama dia memenangkan hati orang-orang Amerika hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu karakter Obama yang banyak dipuji orang adalah kedewasaannya dalam umurnya yang masih cukup muda untuk ukuran seorang politisi. Kedewasaan itu juga membuat dia "survive" dari jatuh bangun kampanye sengit tahun 2008. Kedewasaan itu juga yang membuat hati masyarakat Amerika lebih percaya kepadanya ditengah suasana krisis yang dialami saat ini walaupun kompetitor dia, Hillary Clinton dan John McCain boleh dibilang jauh lebih berpengalaman dan berpengaruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini sebenarnya adalah pendapat saya tentang Obama yang bukan tentang Obama. Seperti yang ditunjukkan judul diatas, orang yang patut Indonesia banggakan bukanlah Obama, tetapi Stanley Ann Soetoro, ibunya Obama. Dia adalah seorang yang dibawa oleh intuisinya ke suatu tempat yang sangat tidak familiar untuknya, orang dan kebudayaan yang jauh berbeda dari tempat dia berasal, dan ia menghabiskan seluruh hidupnya mempelajari dan mencintai tanah dan orang asing itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunyalah yang paling berjasa banyak menanamkan bibit idealisme ke dalam Obama. Tidaklah mudah menanamkan hal itu dimasa akhir decade 60-an itu. Dari catatan sejarah, kita bisa melihat gejolak-gejolak yang sedang terjadi didunia (JFK, Dr.King, manusia pertama dibulan, Vietnam, Beattles, dan kerusuhan Paris 68) dan juga di Indonesia (krisis ekonomi, PKI, pemberantasan brutalnya, korupsi, Suharto, popularitas militer, dan krisis ekonomi) saat itu. Tidak beda jauh dengan konflik saat ini dan tidak gampang membangun harapan akan masa depan yang lebih baik. Sepertinya layaknya karakter cerita didalam novel, Obama mendeskripsikan ibunya, Ann, dan bapak tirinya, Lolo, sebagai dua protagonis, yang merepresentasikan dua jalan yang bisa diambil seorang manusia: idealisme yang dibenturkan dengan realita dan idealisme yang dikuatkan oleh harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lolo mungkin seorang yang cukup idealis pada awalnya ketika masih sekolah di Hawaii. Dia pulang dipanggil negaranya untuk berpartisipasi dan membangun “Era Baru” bangsanya. Menurut Obama, idealisme Lolo itulah yang menarik ibunya untuk mengikuti dia ke Indonesia. Katanya, &lt;em&gt;“that was part of what had drawn her to Lolo after Barack had left, the promise of something new and important, helping her husband rebuild a country in a charged and challenging place…”&lt;/em&gt; (Dreams, h.42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seperti umumnya yang dihadapi banyak dari kita, persimpangan harapan dan realita tidak selalu bertemu. Lolo harus hidup susah , mungkin dengan lifestyle masyarakat menengah kebawah di Jakarta, ketika berkeluarga baru dengan Ann saat itu. Obama bahkan tidak mampu disekolahkan ke Jakarta Internation School seperti layaknya orang-orang asing yang lain. Meskipun demikian, Obama menggambarkan awal hidup dia di Jakarta bersama Lolo penuh dengan petualangan dan pelajaran hidup penting. Bapak tirinya itulah yang mengajarkan dia untuk bertahan hidup ditengah suasana susah, mungkin dari pengalaman pribadinya hidup di Jakarta sebagai teknokrat akhir decade 60-an. Lolo juga yang memperkenalkan konsep hukum rimba: bertahan atau mati dalam diri Obama kecil. Suatu hari, setelah melihat Obama kepalanya benjol dilemparin batu oleh teman bermain bolanya, Lolo berkata, &lt;em&gt;“The first thing to remember is how to protect yourself.”&lt;/em&gt; Dari sana Obama berlatih tinju sejak kecil, sparing dengan bapak tirinya setiap sore. (Pengalaman beladiri seperti ini mungkin masih diperlukan Obama sebagai presiden dalam menghadapai kejadian-kejadian tak terduga bersama wartawan atau dalam konferensi-konferensi pers-nya. Meskipun Presiden Bush cukup sigap menghindar lemparan sepatu seorang wartawan bulan lalu, Obama, karena pengalaman masa kecilnya di Indonesia, mungkin akan lebih berani dan menyundul langsung dengan kepalanya sendiri jika ada sepatu atau benda-benda lain yang melayang kearahnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara perlahan Lolo harus belajar hidup dengan realita kekuasaan di Indonesia. Menurut Obama, &lt;em&gt;“… [in Indonesia] power was undisguised, indiscriminate, naked, always fresh in the memory. Power had taken Lolo and yanked him back into line just when he thought he’d escaped, making him feel its weight, letting him know that his life wasn’t his own….you could just live by the rules, so simple once you learned them. And so Lolo had made his peace with power…”&lt;/em&gt; (Dreams, h.45-46) Sejak itulah Lolo untuk diri Obama merepresentasikan suatu idealisme yang memudar dan memperlihatkan lapisan dibawahnya: skeptikisme. &lt;em&gt;“Lolo had merely explained the poverty, the corruption, the constant scramble for security; he hadn’t created it. It remained all around me and bred a relentless skepticism.”&lt;/em&gt; (Dreams, h.50)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang bersamaan, dihadapi kondisi yang sama, Ann Soetoro juga mengalami suatu transformasi hidup dari seorang idealis “Midwestern” yang lugu ke seorang idealis "Jakarta" yang pragmatis. Obama mendeskripsikan salah satu pengalaman tragis (klasik ala kota metropolitan seperti Jakarta) yang bisa mentransformasikan ibunya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Outside, the sun was high, the air full of dust, but instead of taking a taxi home, she began to walk without direction. She found herself in a wealthy neighborhood where the diplomats and generals lived in sprawling houses with tall wrought-iron gates. She saw a woman in bare feet and a tattered shawl wandering through an open gate and up the driveway, where a group of men were washing a fleet of Mercedes-Benzes and Land Rovers. One of the men shouted at the woman to leave, but the woman stood where she was, a bony arm stretched out before her, her face shrouded in shadow. Another man finally dug in his pocket and threw out of a handful of coins. The woman rain after the coins with terrible speed, checking the road suspiciously as she gathered them in her bosom.”&lt;/em&gt; (Dreams, h.45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tinggal di Indonesia selama 6 tahun, di tahun 1972, ia melanjutkan pendidikan S2-nya di University of Hawaii mempelajari Anthropologi dengan fokus studi Indonesia. Tahun 1975, dia kembali ke Indonesia untuk melakukan riset pendidikan doktornya di Indonesia yang akan berlangsung selama hampir 20 tahun kedepan. Ditengah-tengah riset itu ia juga bekerja penuh di Ford Foundation dengan spesialisasi dalam bidang pengangguran dan pemberdayaan kaum perempuan. Melalui pekerjaan itulah ia mempunyai kesempatan berinteraksi dan semakin terlarut dalam keinginannya untuk memajukan orang-orang miskin di Indonesia. Di dalam laporan majalah Time (21 April, 2008) dikatakan oleh seorang temannya, &lt;em&gt;“She was influenced by hanging out in the Javanese marketplace, where she would see women with heavy baskets on their backs who got up at 3 in the morning to walk the market and sell their produce.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kedekatannya terhadap Indonesia melebihi kewajiban pekerjaannya. Layaknya anthropolog tulen ia-pun hidup dan bernafas dalam kebudayaan dia ditempatkan. Dikatakan dalam majalah Time, &lt;em&gt;“At home, Ann wore traditional housecoat, the batik daster. She loved simple, traditional restaurants. Friends remembering sharing bakso bola tennis, or noodles with tennis-ball-size meatballs, from a roadside stand.”&lt;/em&gt; Obama mengatakan dirumah dia di Chicago masih ada beraneka macam barang-barang kebudayaan koleksi ibunya termasuk “trunks full of batiks that we don’t really know what to do with.” Dalam foto pernikahan Obama, kita bisa melihat Ann mengenakan baju batik dengan rok sederhana yang mungkin sering dipakainya juga di dalam kegiatan-kegiatannya yang lain di Indonesia. Jakarta dan Indonesia menjadi rumah utamanya, tempat ia merasa dipaling terima. Lanjut temannya itu, &lt;em&gt;“Indonesia was very accepting. It gave her a sense of fitting in.”&lt;/em&gt; Ann meninggal tahun 1995 secara tak terduga oleh “ovarian cancer” dalam usia 52 tahun. Sampai mendekati akhir hidupnya Ann masih tetap tinggal dan bekerja di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasa Ann Sutoro yang paling besar yang harus kita kenang adalah usahanya membantu membangun usaha "micro-financing" atau koperasi di Indonesia. Buah usahanya dari tahun 1988 sampai 1992 itu membantu program implementasi “microfinancing” oleh Bank Rakyat Indonesia yang kemudian membantu menyebarnya program ini ke bagian Indonesia yang lain. Menurut majalah Time, &lt;em&gt;“Today Indonesia’s microfinance program is No. 1 in the world in terms of savers, with 31 million member…”&lt;/em&gt; Saya yakin hasil usaha Ann ini tidak kalah dengan Muhammad Yunus dari Bangladesh yang menerima Nobel Prize 2006 karena usaha mengentaskan kemiskinan melalui “micro-financing and loan” yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua boleh berbangga dan menaruh harapan kepada Obama. Salah satu kontribusi pemikiran dia yang paling penting menurut saya adalah pidatonya di bulan Maret 2008 di Philadelphia tentang hubungan antar ras. Pesan “A More Perfect Union” itu bukan hanya ditujukan untuk bangsa Amerika tapi juga layak menjadi pedoman negara-negara multirasial lainnya seperti Indonesia. Tapi yang menarik, di bagian awal pidatonya, dia sempat menyinggung tentang Indonesia meskipun secara tidak langsung. Katanya, &lt;em&gt;“I have gone to some of the best schools in America and lived in one of the world’s poorest nations.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Labelnya untuk Indonesia, meskipun ada unsur kebenarannya, bukan sesuatu yang bisa saya banggakan. Tetapi memang itulah Indonesia yang banyak orang di bagian dunia lainnya tahu melalui koran atau kotak tv mereka. Indonesia yang hanya terdiri dari angka-angka statistik buatan institusi-institusi riset. Indonesia dalam bentuk karikatur dalam buku-buku anthropologi sekolah menengah mereka. Bukan Indonesia yang sepenuhnya. Saya rasa Indonesia juga akan tetap seperti itu untuk Obama, suatu tempat persinggahan, “rest stop area”, tempat dia berhenti sejenak, melakukan apa yang dia perlu lakukan dan kemudian bergerak lagi menuju tujuan utamanya. Bukan Indonesia yang ada dimata dan hati ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang seperti Ann Soetoro-lah yang masyarakat Indonesia patut banggakan. Bersama dengan kita, Ann menemukan arti hidup dia yang lebih besar, yang mungkin tidak dia dapatkan dari Barack maupun Lolo. Sewaktu di sekolah dasar kita sering menyanyikan lagu ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’ untuk para guru-guru kita. Mungkin hymne ini bisa diberikan juga untuk Ann Soetoro-Ann Soetoro yang lain di Indonesia. Mereka adalah orang-orang yang bangun setiap pagi semangat menerjang matahari tropik dan terus bekerja menyebarkan harapan hidup kepada kita semua tanpa pamrih. Orang-orang yang datang dari tanah jauh, singgah, melihat, dan kemudian menetap. Melalui kehidupan mereka kita bisa juga melihat refleksi diri kita yang lebih baik seperti melihat di kaca. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2205338317423085824-6786873587991182572?l=budimanteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budimanteh.blogspot.com/feeds/6786873587991182572/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budimanteh.blogspot.com/2009/01/obamom.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2205338317423085824/posts/default/6786873587991182572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2205338317423085824/posts/default/6786873587991182572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budimanteh.blogspot.com/2009/01/obamom.html' title='Oba-Mom'/><author><name>Budiman Wiharja Teh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04295947360612935345</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2205338317423085824.post-2194080573208193368</id><published>2009-01-13T13:22:00.009+07:00</published><updated>2009-01-14T00:50:50.253+07:00</updated><title type='text'>Keruwetan yang Indah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Halo. Saya baru mau memulai blog baru nih. Blog yang bisa menjadi semacam sketch book tempat saya mengolah pikiran-pikiran pribadi tentang kota dengan segala keindahan keruwetannya. Premis awal saya adalah bahwa kota dan politik adalah dua hal yang berkaitan erat, intertwined, dalam konsep dan realita material. Bukan ide baru lagi. Hal ini sudah jadi topik research ribuan historian, Phd, city planner dimana-mana (contoh topik klasiknya: Robert Moses di NY, Ali Sadikin di Jakarta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So dari sanalah saya ingin coba meneruskan ide ini tetapi secara informal, loose, formless, aimless, dan experimental. Kota dan segala isinya bisa dibilang adalah bangunan politik. Politik juga bisa dilihat sebagai kota yang dibangun dari ide-ide dan pemikiran manusia. Dua subyek yang selalu menarik perhatian dan interestku. Saya juga teringat akan Marx yang bisa menuliskan pemikiran-pemikirannya yang influential dari daya observasi yang tajam. Tetapi yang menarik adalah pemikiran-pemikiran kritikal dia itu bukan cuma mempunyai daya meng-agitasi fundamental masyarakat saat itu tetapi juga mempunyai daya memprojeksikan suatu keadaan yang belum exist, at least belum begitu nyata (capitalism, etc...). Hal-2 seperti ini sebenarnya sesuatu yang biasa dan digeluti sehari-hari oleh para artis dan seniman dimana-mana. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nah, pertanyaan saya sekarang adalah bisa gak yah kita juga mengabstraksikan kota sebagai suatu "evolving concept", sebagai sesuatu yang bisa diprojeksikan. Mungkin itulah yang dikerjakan oleh para perancang kota, city planners. Tapi saya yakin kita semua, penghuni kota, juga bisa turut berpartisipasi dalam diskurs ini. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2205338317423085824-2194080573208193368?l=budimanteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budimanteh.blogspot.com/feeds/2194080573208193368/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budimanteh.blogspot.com/2009/01/keruwetan-yang-indah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2205338317423085824/posts/default/2194080573208193368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2205338317423085824/posts/default/2194080573208193368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budimanteh.blogspot.com/2009/01/keruwetan-yang-indah.html' title='Keruwetan yang Indah'/><author><name>Budiman Wiharja Teh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04295947360612935345</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2205338317423085824.post-4474262930780079579</id><published>2009-01-13T11:30:00.001+07:00</published><updated>2009-01-13T13:05:11.703+07:00</updated><title type='text'>Pembangunan itu Penting</title><content type='html'>Kutipan dari Pram,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan aku butuh pembangunan. Aku butuh penciptaan. Aku butuh pengisian. Aku tak suka kekosongan." - Hamid dalam "&lt;em&gt;Keguguran Calon Dramawan&lt;/em&gt;" (1953)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2205338317423085824-4474262930780079579?l=budimanteh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budimanteh.blogspot.com/feeds/4474262930780079579/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budimanteh.blogspot.com/2009/01/pembangunan-itu-penting.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2205338317423085824/posts/default/4474262930780079579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2205338317423085824/posts/default/4474262930780079579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budimanteh.blogspot.com/2009/01/pembangunan-itu-penting.html' title='Pembangunan itu Penting'/><author><name>Budiman Wiharja Teh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04295947360612935345</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
